Minggu, 07 Desember 2014

Intervensi Keperawatan Leukimia


C. Intervensi Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
1.
Risiko tinggi infeksi b/d depresi pertahanan tubuh.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan  selama 2x 24 jam masalah infeksi klien teratasi dengan
Kriteria hasil :
·   Anak tidak b/d individu yang terinfeksi atau alat yang terkontaminasi.
·   Anak mengkonsumsi diet sesuai usia.
·   Anak tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.

1.      Tempatkan anak pada ruangan tersendiri (khusus)
2.      Anjurkan semua pengunjung dan staf untuk menggunakan teknik mencuci tangan yang baik
3.      Pantau suhu anak



4.      Auskultasi bunyi napas, perhatikan gemericik, ronki; inspeksi sekret terhadap perubahan karakteristik.
5.      Inspeksi kulit untuk nyrei tekan, area eritematosus
6.      Berikan periode intirahat tanpa gangguan
7.      Dorong peningkatan masukan makanan tinggi protein dan cairan
8.      Awas pemeriksaan lab. Hitung darah lengkap.




9.      Berikan obat sesuai indikasi. Co/ antibiotik
10.  Hindari antipiretik yang mengandung aspirin.
1.      Melindungi dari sumber potensial/infeksi
2.      Mencegah kontaminasi silang/menurunkan resiko infeksi

3.      Hipertermi lanjut terjadi pada beberapa tipe infeksi, dan demam terjadi pada kebanyakan pasien leukemia.
4.      Intervensi dini penting untuk mencegah sepsis/septisemia pada individu imunosupresi.
5.      Mengindikasikan infeksi lokal.

6.      menghambat energi untuk peyembuhan, regenerasi seluler
7.      meningkatkan pembentukan antibodi dan mencegah dehidrasi
8.      penurunan jumlah SDP normal/matur dapat diakibatkan oleh proses penyakit atau kemoterapi, melibatkan respon imun dan peningkatan risiko infeksi.
9.      dapat diberikan secara profiklaktik atau mengobati infeksi khusus
10.  aspirin dapat menyebabkan perdarahan gaster dan penurunan jumlah trombosit lanjut
2.
Risiko tinggi cedera (hemoragi, sistitis hemoragis) b/d pengaruh proliferasi sel.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam masalah cedera (hemoragi, sistitis hemoragis) klien teratasi dengan KH :
·   Anak tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan.

1.      Gunakan semua tindakan untuk mencegah infeksi, khususnya pada area ekimosis.
2.      Gunakan tindakan lokal (mis., memberikan tekanan, es)
3.       Batasi aktivitas keras.

4.      Libatkan anak dalam tanggung jawab untuk membatasi aktivitas bila jumlah trombosit turun
5.      Hindari pungsi kulit bila mungkin
6.      Observasi adanya perdarahan setelah prosedur seperti pada pungsi vena, aspirasi sumsum tulang.
7.      Balikkan dengan sering dan gunakan matras pengurang-tekanan atau penghilang-tekanan
8.      Ajarkan orangtua dan anak yang lebih besar tindakan-tindakan
9.      Cegah ulserasi oral dan rektal

10.  Hindari obat-obatan yang mengandung aspirin
11.  Berikan trombosit sesuai ketentuan

1.      Karena infeksi menyebabkan kecenderungan perdarahan.

2.      Menghentikan perdarahan.

3.      Dapat menyebabkan cedera yang tidak disengaja.
4.      Mendorong kapatuhan.


5.      Mencegah perdarahan
6.      Menentukan adanya peradarahan.


7.      Mencegah luka tekan.


8.      Mengontrol perdarahan hidung.

9.      karena kulit yang luka cenderung untuk berdarah.
10.  Karena aspirin mempengaruhi fungsi trombosit.
11.  Meningkatkan jumlah trombosit.

3
Risiko tinggi kekurangan volume cairan b/d mual    dan muntah.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam masalah kekurangan volume cairan klien teratasi dengan KH :
·   Anak menyerap makanan dan cairan.
·   Anak tidak mengalami mual dan muntah.

1.      Berikan dosis antiemetik awal sebelum dimulainya kemoterapi

2.      Berikan antiemetik sampai mual dan muntah berakhir
3.      Kaji respons anak terhadap antiemetik.

4.      Hindari makanan dengan bau menyengat
5.      Buka nampan makanan rumah sakit di luar kamar anak
6.      Dorong masukan cairan dengan jumlah sedikit.
7.      Berikan cairan intravena, sesuai ketentuan, sering, untuk

1.      Mencegah mual dan muntah, sehingga mencegah respons antisipasi.
2.      Mencegah episode berulang

3.      Karena tidak ada obat antiemetik yang secara umum berhasil.
4.      Dapat menimbulakan mual dan muntah.
5.      Mengurangi bau makanan yang dapat menimbulkan mual.
6.      Karena jumlah yang kecil biasanya ditoleransi dengan baik.
7.      Mempertahankan hidrasi.

DAFTAR PUSTAKA

Broyles, Bonita E. 1997. Nursing Care Of Children Principles & Practice. United State of Amerika: W.B Saunders Company.
Cecily L. Betz & Linda A. Sowden. 2002. Buku saku Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC.
Hidayat, A.aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba medika.
Muscari, Mary E. 2005. Keperawatan Pediatrik. Edisi 3. Jakarta: EGC.
Nelson. 1996. Ilmu Kesehatan Anak. Volume 3. Jakarta : EGC.
Ngastiyah. 2003. Perawatan Anak Sakit. Edisi 2. Jakarta : EGC.
Sacharin, Rossa M. 1993. Prinsip Keperawatan Pediartik. Edisi 2. Jakarta  :EGC.
Wong, Donna L. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi 4. Jakarta: EGC.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar