Jumat, 28 November 2014

Pertolongan Persalinan Kala I, II, III, IV

PERTOLONGAN PERSALINAN

KALA I: Waktu mulai timbulnya tanda-tanda persalinan sampai pembukaan lengkap.
(Nulipara ± 12 jam, Multi para ± 7 jam)
Ø  Fase laten: 0 – 3 cm
Ø  Fase aktif:  4 – 10 cm
                 Pengkajian yang harus dilakukan:
§  Tekanan darah: Dilakukan tiap jam.
§  Denyut Nadi: Dilakukan tiap jam.
§  Pernafasan: Dilakukan tiap jam.
§  Suhu: Normal dilakukan tiap 4 jam, PRM dilakukan tiap jam
§  Kontraksi uterus: Laten dilakukan tiap jam, Aktif dilakukan tiap 30 menit.
§  DJJ: Laten tiap jam, aktif dilakukan tiap 30 menit.
VT dilakukan jika diperlukan, sebaiknya tiap 4 jam.
Yang diperiksa saat VT:
·         Dilatasi & penipisan cerviks
·         Perlukanak servik.
·         Keadaan membran amnion & warna cairan amnion
·         Penurunan bagian trendah janin
·         Denominator (sutura, UUK)
·         Moulage (penyisioan tulang tengkorak)

KALA II: Dimulai setelah pembukaan serviks lengkap (10cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi.
Lamanya: Primugravida (nullipara): 1 jam
                 Multipara : ½ jam.
Tanda-tanda dimulainya kala II:
Ø  Muncul keringat tiba-tiba dibibir atas dan kadang muntah.
Ø  Bloody show meningkat.
Ø  Extrimitas gemetar dan ibu gelisah: ”saya tidak bisa menahan lagi”
Ø  Ibu ingin mengejan secara spontan
Ø  Rektum dan vulva terbuka
Ø  Perineum menipis & menonjol oleh tekanan kepala janin.
Peralatan pertolongan persalinan:
1.      Partus pack steriL:
o   Doek 2 helai
o   Sarung tangan DTT 2 ps
o   ½ kokher 1 bh ( pemecah ketuban)
o   Guntung epsiotomi 1 bh
o   Kasa 2 bh
o   Klem tali pusat 2bh
o   Pengikat tali pusat 1 bh
o   Spuit untuk uterotonika 1 bh
2.      Persiapan lain:
o   Korentang steril
o   Kapas svlon
o   Kapas alkohol
o   Penghisap lendir bayi
o   Lampu penghangat & alat resusitasi bayi
o   Gelas ukur perdarahan
o   Bak bengkok
o   Tempat kotoran + larutan DTT (klorin 0,5%)
o   APD penolong.



Tindakan pada kala II:
1. Atur posisi ibu
2. Bimbing ibu untuk mengejan secara efektif
3. Setelah hasil VT pembukaan lengkap, pecahkan ketuban:
  • Melakukan vulva higiene
  • Pasang bak bengkok dibawah perineum
  • Dua jari tangan dengan sikap VT meraba kantong ketuban, tangan kiri memasukkan ½ kokher kedalam jalan lahir dengan bimbingan tangan kanan.
  • ½ kokher dipegang tangan kanan, tangan kiri melindungi penolong dari semburan air ketuban.
  • Ketuban dipecahkan  saat his (semburan lebih keras, tapi menjangkau selaput ketuban lebih mudah).
4. Pertolongan kelahiran Bayi:
  • Perawat memasang APD dan dilanjutkan dengan memasang sarung tangan steril dengan tehnik aseptik sambil memantau perineum ibu atau keadaan umum ibu.
  • Memasang doek diatas perut ibu dan dibawah vulva.
  • Secara terus menerus memotivasi ibu untuk mengejan efektif dan memberikan nutrisi pada saat ibu relaksasi.
  • Jika ada kemungkinan  terjadi robekan perineal, maka dapat dilakukan episiotomi, tetapi jika dimungkinkan dapat dihindari maka tindakan episiotomi sedapat mungkin tidak dilakukan.
  • Bila kepala janin telah tampak didasar panggul, lakukan tindakan menjaga perineum dengan cara jari-jari satu tangan (biasanya yang kanan) menyangka perineum dengan lindungan doek divulva, sementara tangan kiri melakukan tekanan pada kepala janin untuk mengendalikan kecepatan crowning.
  • Jika kepala bayi telah keluar, penolong mengusap muka bayi untuk membersihkannya dari kotoran/lendir yang akan mengganggu pernafasan spontan bayi.
  • Selanjutmya biarkan bayi melakukan putar paksi luar sendiri dan segera periksa adanya lilitan tali pusat.
Cara melepas lilitan tali pusat:
Ø  Jika tali pusat mengelilingi leher bayi dan terlihat longgar, selipkan tali pusat melalui kepala bayi.
Ø  Jika lilitan tali pusat terlalu ketat, tali pusat diklem pada dua tempat kemudian digunting diantara dua klem tersebut sambil melindungi leher bayi.
  • Kemudian tempatkan kedua tangan pada sisi kepala dan leher bayi.
  • Lakukan tarikan lembut kebawah untuk melahirkan bahu depan.
  • Lakukan tarikan lembut keatas untuk melahirkan bahu belakang.
  • Selipkan satu tangan penolong kebahu dan lengan belakang bayi sambil menyangga kepala dan selipkan satu tangan  lainnya ke punggung bayi untuk mengeluarkan tubuh bayi seluruhnya.
  • Letakkan bayi diatas perut ibu.
  • Secara menyeluruh, keringkan bayi, bersihkan matanya, dan nilai pernafasan bayi. Sebagian besar bayi mulai bernafas spontan/menangis 30 detik setelah lahir.
  • Minta ibu dan pasangannya untuk memegang bayi.
  • Klem dan potong tali pusat.
  • Pastikan bahwa bayi tetap hangat dan kontak dengan kulit dan dada ibunya. Bungkus bayi dengan selimut hangat dan pastikan kepala bayi terlindung dari kehilangan panas.

KALA III: Fase pengeluaran Placenta
Mulai pada saat bayi telah lahir lengkap dan berakhir dengan lahirnya placenta.
Kelahiran placenta: lepasnya placenta dari insersi pada dinding uterus, serta pengeluaran placenta dari kavum uteri.
Plasenta lepas spontan 5 – 15 menit setelah bayi lahir.
Cara pelepasan plasenta:
1. Dari sentral (Sclultze) ditandai dengan perdarahan baru
2. Dari tepi/marginal (Matthews-Duncan), jika tidak disertai perdarahan.
3. Bersamaan central dan marginal.
                Manajemen Aktif Kalla III:
·   Pemberian oksitosin dengan segera
·   Pengendalian tarikan pada tali pusat
·   Massage uterus segera setelah placenta lahir
                 Cara pemberian oksitosin:
o Tujuan: merangsang kontraksi uterus dan mempercepat pelepasan placenta.
o Diberikan 2 menit setelah bayi lahir
o Dosis: 5 U intra muskuler
o Jika tidak tersedia rangsang puting susu ibu/berikan ergometrin (methergin) 0,2 mg IM
Tindakan pada kala III:
1.    Tangan kiri diletakkan diatas fundus uteri, tangan kanan memegang tali pusat dengan klem 5 – 6 cm didepan vulva (seperti memegang rokok) dengan tahanan ( jangan ditarik, tegangkan saja.
2.    Jika kontraksi kuat (2-3 menit setelah bayi lahir). Tangan kiri mendorong uterus dengan gerakan dorso kranial dan tangan kanan menegangkan talipusat. Jika kontraksi hilang penegangan dihentikan, tangan kiri tetap memegang uterus
3.    Lakukan terus sampai terasa talipusat sudah lepas.
Cara mengetahui pelepasan tali pusat:
·   Kustner: Tali pusat diregangkan pada satu tangan, daerah suprasimfisis ditekan dengan tangan lainnya, dinilai ada tidaknya respon dari regangan tali pusat (saat suprasimfisis ditekan tali pusat makin panjang, maka placenta sudah lepas)
·   Strassman: Tali pusat diregangkan dengan satu tangan, daerah fundus uteri diketuk-ketuk dengan tangan lainnya, dinilai ada tidaknya  respon pada regangan tali pusat (bila tali pusat ikut bergetar, berari placenta belum lepas)
·   Klein: Ibu disuruh mengejan, akan tampak ujung talipusat bergerak turun, dan ketika meneran dihentikan, jika ujung tali pusat naik kembali berarti placenta belum  lepas.
4.    Jika plasenta terasa lepas, pindahkan klem talipusat mendekati placenta.
5.    Dengan tangan kiri tetap mendorong uterus kearah kaudo kranial, keluarkan placenta melalui penegangan pada talipusat terdekat dengan gerakan kebawah dan keatas sesuai jalan lahir.
6.    Kemudian kedua tangan menangkap placenta dan memutar searah jarum jam secara perlahan sampai selaput placenta keluar semuanya.
7.    Lakukan pemeriksaan pada placenta, yang meliputi:
·         Ukuran, berat, bentuk, konsistensi, warna kotiledon.
·         Ada tidaknya bagian placenta yang: infark, perdarahan, tumor, nodul
·         Tali pusat: panjang, insersi, jumlah pembuluh darah, trombosis, lilitan (simpul). dan Wharton’s Jelly.
8. Lakukan pengukuran jumlah perdarahan

KALA IV: Mulai dari setelah placenta lepas sampai 2 jam pos partum.
                  Tindakan yang dilakukan pada kala IV:
1. Observasi tanda-tanda vital.
2. Observasi perdarahan.
3. Observasi kontraksi uterus.

                   Dilakukan  setiap 30 menit pada 1 jam  pertama dan setiap jam pada 1 jam kedua.